COGANEWS.COM | Palembang – Dinamisnya konstelasi politik di Ogan Ilir akhirnya semakin mengerucut.

Dua pasang bakal calon kepala daerah resmi mendaftar di KPU Ogan Ilir kemarin, sabtu 05 september 2020.

Ilyas Panji Alam & Endang PU dengan slogan visi “Ogan Ilir Semakin Maju” yg diusung oleh PDIP, Partai Golkar, Partai Hanura dan PBB.

versus

Panca Wijaya Akbar & Ardani dengan slogan visi “Ogan Ilir Bangkit” yg diusung oleh Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Nasdem, PKS, PKB, PPP, PAN dan Partai Perindo.

Terlihat jelas dua slogan yang saling kontradiktif akan dijadikan isu kampanye masing-masing kandidat.

Yang satu akan mengeksplor tentang keberhasilan pembangunan Ogan Ilir sehingga layak untuk diteruskan dengan pemimpin yang sama, sebaliknya yang lain akan mengeksplor tentang kegagalan pembangunan sehingga perlu bangkit untuk melakukan pembaharuan oleh pemimpin baru.

Dalam konteks strategi pemenangan dua isu sentral yang kontradiktif ini akan menjadi gorengan kampanye yg sangat renyah dan gurih, dengan bumbu propagandis serta negative campaign (asal jangan black campaign) yg akan diramu oleh media untuk disajikan sebagai konsumsi politik bagi masyarakat pemilih di Ogan Ilir.

Peran mesin parpol, relawan, birokrat akan menjadi ujung tombak pemenangan pasangan IPA-ENDANG, dan saya yakin dgn posisi sebagai incumbent, strategi pemenangan akan dititikberatkan pada peran serta mobilisasi kekuatan jaringan birokrasi, parpol dan relawan.

Khusus jaringan birokrasi biasanya menjadi kunci keberhasilan pilkada dengan catatan bahwa incumbent mampu menjaga soliditas dan loyalitas jajaran birokrat dari level eselon hingga level pelaksana lapangan (lurah/kades, rw/rt), dan hal ini merupakan realitas politik yang tidak bisa dinafikan dlm setiap kontestasi pilkada dimanapun dilaksanakan.

Dengan asumsi kekuatan jaringan birokrasi akan mampu paling tidak menyerap suara pemilih 20 smpai dengan 30 %, ditambah dengan kekuatan parpol pengusung dan pendukung yg diharapkan juga berkisar 20 sampai dengan 25 %, maka pasangan IPA-ENDANG bisa saja optimistis mengklaim akan memenangkan pertarungan dalam pilkada kali ini.

Selain itu sinyal yang ingin ditunjukkan oleh IPA yang juga merupakan obsesi lain dari dirinya,  yakni ingin menepis pandangan minor terhadap kepemimpinannya di Ogan Ilir, bahwa seakan-akan jabatan bupati yg diembannya semata-mata hadiah keberuntungan akibat “musibah'” yg dialami oleh Ovi sehingga jabatan tersebut diambil alih oleh IPA, tanpa harus mengeluarkan keringat dlm perjuangan.

Diapun ingin membuktikan bahwa selama kepemimpinannya 5 tahun terakhir, dia telah mampu membawa berbagai kemajuan pembangunan Ogan Ilir dan telah berhasil merebut kecintaan rakyat atas kepemimpinannya.

Lantas bagaimana kalkulasi politik antara peluang IPA dan Panca ? Siapa yg lebih bisa merebut hati pemilih nantinya ?

Apakah IPA – Endang yang akan keluar sebagai kampiun untuk meneruskan kepemimpinannya?

Atau sebaliknya akan mampukah Panca – Ardani meyakinkan masyarakat Ogan Ilir bahwa kebijakan pembangunan Ogan Ilir perlu di koreksi dan butuh perubahan kepemimpinan?

Dalam perspektif jaringan kekuasaan yg notabene masih dalam kendalinya maka sangat logis jika IPA berkeyakinan penuh untuk memenangkan kontestasi ini, keyakinan itu ditambah lagi dengan adanya sedikit guncangan di kubu lawan, dimana disaat injury time, Noviandi mundur dari pencalonan dan digantikan oleh Panca yg relatif new comer dalam konstelasi politik di Ogan Ilir.

Namun saya pribadi berpendapat masih dibutuhkan analisa yang lebih dalam dengan metode perhitungan yang ilmiah serta pemetaan politik yang akurat dengan didukung oleh kerja politik yang luar biasa keras untuk memenangkan kontestasi ini.

Mengapa ?

Karena situasi yg dihadapi bukanlah seperti saat pilkada 2015 saat pasangan AW NOVIANDI – ILYAS PANJI ALAM bergabung bersama dan sukses memenangkan pilkada Ogan Ilir.

Saat ini IPA – ENDANG akan menghadapi “harimau terluka” yang “comeback” untuk melakukan revans.

Mungkin mayoritas publik tahu terutama masyarakat Ogan Ilir, bagaimana perjalanan kepemimpinan di Ogan Ilir pasca pilkada tahun 2015.

Kekuasaan yang direnggut dari tangan OVI, meninggalkan goresan luka politik yang dalam di pihak keluarga Ovi, khususnya ayahnya MY (H. Mawardi Yahya) sang maestro politik di Ogan Ilir, sekaligus founding father yang sudah mengakar ketokohannya disana.

Ditambah dengan posisinya sebagai Wakil Gubernur saat ini, maka sangat masuk akal jika MY akan mempertaruhkan reputasi politik dan prestise klan keluarganya untuk menjadikan kontestasi pilkada saat ini menjadi ajang “perang bharatayudha”.

Soal karakter petarung MY tidak perlu diragukan lagi, sudah beberapa kali MY mampu menjungkirbalikkan peta politik dlm pilkada yg melibatkan dirinya, baik langsung maupun tidak langsung.

Apalagi untuk pilkada Ogan Ilir yang sangat prestisius dan emosional ini, Saya yakin MY akan “full power dan full speed” untuk memenangkan pasangan Panca – Ardani, dan tidak tanggung-tanggung Noviandi (Ovi) diturunkan langsung memimpin tim pemenangan Panca – Ardani.

Lantas terhadap pandangan “under estimated” dari beberapa kalangan terhadap integritas, kompetensi, kapabilitas, serta pengalaman Panca Wijaya Akbar yg dinilai masih hijau untuk menjadi orang nomor 1 di kabupaten Ogan Ilir, saya justru kurang sependapat.

Ibarat pepatah buah kelapa jatuh takkan jauh dari pohonnya, seekor singa tidak akan melahirkan anak kambing.

Analogi ini mungkin relevan dgn prinsip hidup klan keluarga MY. Sekali layar terkembang tak kenal kata surut kebelakang.

Tokoh muda Panca Wijaya Akbar mungkin saja miskin pengalaman berpolitik, tapi dengan kapasitas intelektualnya, serta lingkungan dan keluarga yang merupakan tokoh-tokoh kawakan dalam berpolitik, akan mempercepat proses adaptasi Panca menjadi calon pemimpin yang berkompeten dan berintegritas.

Membandingkan sosok Panca, Saya jadi teringat dengan sosok seorang sahabat dekat yang pernah sangat lugu dan naif saat pertama kali terjun di panggung politik, bisa dimaklumi karena dia berkecimpung di dunia usaha dan tidak pernah menyentuh aktifitas politik.

Namun karena kemauan yang keras ditambah talenta politik yang diwarisi dari orang tuanya, maka hanya butuh waktu 2 tahun dia mampu menjadi rising star dalam percaturan politik di sumsel, dengan kesuksesan dua kali menjadi bupati dan saat ini justru menjadi org nomor 1 di Sumsel (tidak perlu disebutkan namanya pasti pembaca maklum).

Dan secara anatomi politis Panca Wijaya Akbar “nyaris” mirip dgn kondisi sahabat saya tersebut, awalnya diragukan kapabilitas dan kompetensinya sebagai calon pemimpin bahkan ada nada menganggap enteng terhadap kemampuannya untuk memimpin Ogan Ilir kedepan.

Sebaliknya saya justru optimis bahwa Panca akan mampu menjadi salah satu rising star yg bukan saja mampu memimpin masyarakat Ogan Ilir, tetapi bahkan akan menjadi tokoh pemimpin muda masa depan di Sumatera Selatan.

Apalagi Panca didampingi dengan Ardani, seorang birokrat tulen yg sudah kenyang makan asam garam dalam hal mengelola pemerintahan, serta piawai membangun spirit serta etos kerja di jajaran birokrasi, sungguh pasangan ini adalah pasangan ideal yang mewakili dua generasi, generasi millenial yang progresif dan generasi pembaharuan birokrasi yang reformis.

Bagaiman peran tokoh sentral di tim Panca-Ardani ?

Tidak ada yg bisa menyanggah, bahwa MY adalah pengendali strategi bagi tim pemenangan Panca – Ardani. Kepiawaian serta pengalamannya dalam meracik taktik dan strategi pemenangan akan menjadi kunci keberhasilan Panca – Ardani.

MY sudah terbukti sukses menghantarkan Ovi – IPA menjadi bupati & wakil bupati Ogan Ilir periode 2015 – 2020, meskipun usia jabatan Ovi hanya berbilang 1 bulan, tapi hal itu bukan termasuk dalam aspek kelemahan strategi dan taktik MY.

Belum lagi gerakan politik partai pengusung dan pendukung, karena pilkada memiliki efek untuk menentukan peta politik Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tahun 2024.

Apalagi org mengenal MY sebagai tokoh politik yg selalu royal dan loyal terhadap mitra-mitra politiknya, sehingga saya berkeyakinan partai maupun relawan akan merasa nyaman dan siap berjibaku untuk memenangkan pasangan Panca – Ardani.

Mengapa saya lebih banyak mengulas tentang profil pasangan PWA – AR ? Karena dlm pengamatan saya pasangan ini akan memberikan kejutan diantara 7 kontestasi pilkada di Sumsel, terlepas siapakah nanti yang akan memenangkan pertarungan akhir, IPA – Endang ataukah PWA – Ardani.

Tentu saja kita semua ingin melihat tontonan politik yg elegan dan bermartabat, dengan sebuah kegembiraan perhelatan pesta demokrasi. (ZH)

Salam takzim,

  • Suparman Romans
  • Ketua Presidium
  • LKKPPD Provinsi Sumatera Selatan.