Oleh: Hafid Zainul (1730503102)

DPL: Budhi Santoso, M.A.

COGANEWS.COM | Palembang – World Health Organization (WHO) secara resmi menamai penyakit virus corona yang pertama kali diidentifikasi di China pada 31 Desember dengan nama Covid-19.

Beberapa ciri-ciri orang terinfeksi virus corona antara lain, demam, batuk, pilek, gangguan pernafasan, sakit tenggorokan, dan fisik lesu.

Virus corona semakin luas menyebar di Indonesia. Tercatat hingga 30 Juli 2020, kasus positif virus corona telah mencapai angka 100.000, yakni 105.236.

Namun, masih saja masyarakat di Indonesia beranggapan bahwa virus corona sebenarnya tidak ada. Berbagai asumsi dimulai dari virus corona sebatas konspirasi elite global, virus corona tidak menyeramkan seperti diberitakan media, dan lain-lainnya.

Salah satu personil band Superman is Dead, Jerinx, ia tidak percaya tentang adanya virus corona. Ia menyebutkan bahwa virus tersebut hanyalah sebuah konspirasi elite global. Yang Jerinx maksud elite global adalah pendiri Microsoft, Bill Gates.

Menurutnya, ini bisa dilihat dari film berjudul “Pandemic” di Netflix yang dibuat oleh Bill dan Melinda Gates Foundation. Film ini ternyata dirilis bersamaan dengan terjadinya pandemi virus corona di dunia nyata.

Teori konspirasi membawa pesan umum, yakni satu-satunya perlindungan datang dari mereka yang memiliki kebenaran rahasia yang tidak ingin mereka dengar. Perasaan aman dan kontrol yang ditawarkan rumor semacam itu mungkin hanya ilusi, tetapi dampaknya sangat besar terhadap rusaknya kepercayaan publik.

Rumor dan klaim yang jelas tidak dapat dipercaya disebarkan setiap hari oleh orang-orang yang memiliki kemampuan kritis di tengah rasa bingung dan ketidakberdayaan masyarakat di tengah pandemi corona.

Berkembangnya ekosistem dengan informasi keliru dan ketidakpercayaan publik ini telah membuat WHO memperingatkan adanya infodemik di tengah pandemi virus corona global saat ini.

Kemudian, masyarakat Indonesia rentan tidak percaya tentang adanya virus corona, karena tidak mempunyai pengalaman, tidak ada keluarga atau orang terdekat yang mengalami langsung. Orang-orang cenderung tidak percaya pada sesuatu yang tak terlihat kasat mata.

Oleh karenanya, ada pun alasan lain sebagian masyarakat Indonesia tidak percaya terhadap virus corona. Alasan tersebut ialah sebagian orang tidak percaya karena ingin menghindari kecemasan yang akan ditimbulkan.

Orang-orang cenderung tidak suka merasa cemas, maka mereka lebih memilih untuk menghindar, dengan cara tidak percaya adanya virus corona.

Selain itu, sebagian masyarakat Indonesia lainnya tak percaya karena virus corona tidak berbahaya. Tidak berbahaya seperti banyak diberitakan oleh banyak media.

Sehingga, orang-orang cenderung acuh tak acuh terhadap protokol kesehatan. Misalnya jarang memakai masker, tidak terlalu memerhatikan jarak, serta jarang jaga kebersihan.

Pemerintah telah berupaya agar kejadian lalai tersebut tidak terulang lagi. Seperti menerapkan peraturan denda sebesar 500 ribu, memberi sanksi sosial hukuman di tempat berupa push up, sit up, dan menyapu jalan. Tak lupa, para pelaku pelanggar protokol kesehatan diberi masker gratis.

Selain pemerintah menerapkan berbagai peraturan agar masyarakat lebih sadar untuk menaati protokol kesehatan, pemerintah akan melakukan pengawasan di pasar, tempat ibadah, dan tempat kawasan wisata. Pemerintah juga akan memberlakukan jam malam, membatasi aktivitas masyarakat di atas pukul 22.00 WIB.

Seluruh masyarakat sebaiknya untuk tidak menyepelekan virus corona, serta selalu menaati protokol kesehatan guna memulihkan keadaan kesehatan dan ekonomi yang saat ini dinilai dalam fase darurat. Tidak ada rugi dan salah jika seluruh masyarakat patuh pada protokol kesehatan. Itu semua demi kebaikan. (ZH)

(Opini ini ditulis oleh Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang yang sedang mengikuti KKN-73)