COGANEWS.COM | Palembang – Bulan Dzulhijjah dengan sarat kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS terhadap Sang Maha Cinta.

Tepatnya hari ini hari Arafah disunnahkan bagi kita yang tidak menjalankan ibadah haji untuk berpuasa sehingga bisa memperoleh keutamaan dihapusnya dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang.

Ibadah qurban sebagai simbol abdan syakuro (orang yang bersyukur atas karunia Allah SWT), bentuk nyata ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah swt.

Jika dilihat dari sisi historis, bulan ini mengingatkan kita akan satu sosok spesial yakni Nabi Ibrahim AS yang harus menyembelih putra tercintanya atas perintah dari Allah SWT.

Dalam tafsir Al Qurthubi Juz 18 halaman:69 dan tafsir Al Baghawi Juz 4 halaman:33, Ibnu Abbas Berkata:

Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS keduanya taat, tunduk, patuh, terhadap perintah Allah swt.

Ingatlah kisah itu ketika keduanya akan melaksanakan perintah Allah SWT, dengan tulus dan tabah sang anak berkata, “Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak. Singsingkan bajumu agar darahku tidak mengotori bajumu, maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti) Ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih”

“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”

“Wahai Ayah, apabila Engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih) ku kepada Ibunda dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah”.

Saat itu dengan penuh haru Nabi Ibrahim AS berkata: “Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah SWT”.

Dari sini kita bisa melihat arti cinta yang sesungguhnya, the power of love yang membuat bumi berhenti berputar sejenak, gunung-gunung bergetar menyaksikannya, burung-burung pun terkesima dan alam semesta seisinya ikut menangis haru.

Ini tentu berbeda dengan cinta yang sering disalah artikan pada masa kini, dimana banyak anak muda atau bahkan anak di bawah umur yang sangat salah mengartikan cinta.

Melakukan hal hal di luar batasan dengan mengatasnamakan cinta, lalu terjerumus dalam lembah yang sangat berbahaya dengan menganggap itu sebuah arti cinta. Padahal itu merupakan salah satu kesalahan yang fatal, cinta tidak menjerumuskan nan berbahaya tapi menyalakan cahaya.

The power of love Nabi Ibrahim AS menanamkan benih-benih cinta yang dilandasi oleh pengorbanan yang dipenuhi ketulusan yang mampu menghantarkan ke pintu gerbang kemenangan hakiki.

Sebagai anak-anak muda masa kini kita harus lebih memahami arti cinta yang sesungguhnya, berbicara tentang cinta memang tiada habisnya, ada yg bilang cinta itu ibarat air, kita bisa hanyut serta tenggelam di dalamnya tapi tentu kita tak bisa hidup tanpanya.

Ada juga yang bilang cinta itu seperti koyo, pertamanya anget namun lama-kelamaan berubah jadi dingin dan pas dicabut sakit banget.

Memang cinta bukan untuk dideskripsikan tapi cinta untuk dirasakan dan diimplementasikan.

Mulai dari sekarang ada baiknya kita terus berbenah diri, serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk menyongsong datangnya cinta sejati yang benar benar murni untuk masa depan ceria, cerah dan cemerlang. (ZH)