COGANEWS.COM | Palembang —Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pelaku Kuliner Bersatu Palembang (FK-PKBP) melakukan aksi demo di Halaman Kantor Walikota Palembang, Senin (2/3/2020).

Mereka meminta Pemkot Palembang merevisi kebijakan tentang Undang-undang nomor 2 tahun 2018 terkait penetapan pajak 10 persen. Apalagi usaha warung kuliner, warung tenda, penjaja makanan kelilingi didefenisikan sebagai usaha restoran.

Ketua FK-PKBP Sumsel, H Idasril SE mengatakan, pihak Pemkot tidak serius dalam pengkajian persoalan pajak restoran, terkesan pengenyampingkan usulan. Sehingga menimbulkan kekhawatiran akan adanya penetapan pajak usaha kuliner yang tidak berkeadilan.

“Penantian setelah 7 bulan dari tahapan-tahapan di lalui seperti melaporkan Ombudsman, DPRD dan meminta masukan para ulama. Sekarang kita tunggu selama tiga hari, harus ada klasifikasi terhadap masalah restoran,” katanya.

Dia mengatakan usulan-usulan revisi tentang klasifikasi yang diajukan Pemkot agar dibenahi dulu turunannya, baru berbicara undang-undang.

“Kalau aspirasi ini disepelekan, kami akan datang dengan jumlah yang lebih banyak. Kita tidak memaksakan tapi kami ingin agarwal ada rasa keadilan agar jangan disamakan dengan pemilik restoran besar,” ujarnya.

Sementara itu, Walikota Palembang H Harnojoyo diwakili Sekretaris Daerah (Sekda), Drs Ratu Dewa mengungkapkan, bahwa aspirasi masyarakat yang disalurkan tetap direspon Pemkot Palembang. Tapi harus ada pengkajian substansi secara tertulis telah disampaikan.

“Saya sepakat pengklasifikasian pengkajian, artinya pajak 10 persen tidak semuanya merata. Sekarang sedang revisi 10 Perda di DPRD Kota Palembang,” ungkapnya.

“Jika ada oknum BPPD yang makan di restoran lalu mereka meninggalkan tanpa tidak membayar, silakan melaporkan Pemkot atau langsung kepada Walikota atau Sekda. Jika mereka terbukti melakukan itu, saya pastikan akan ditindak tegas dan akan diberikan sangsi seberat-beratnya,” pungkasnya.

@Cha